KETIKA ADA LILITAN TALI PUSAT dalam Persalinan

Last Updated on Wednesday, 29 August 2012 Wednesday, 29 August 2012

Artikel ini berbagi informasi tentang praktik umum yang dilakukan ketika terjadi lilitan tali pusat selama tahap kedua persalinan, dan memotong tali pusat ternyata merupakan – intervensi yang tidak berdasarkan bukti dan dapat menyebabkan trauma kelahiran.

Penting untuk Anda ketahui tentang ‘manajemen’ lilitan tali pusat dan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi proses kelahiran mereka. Harapan saya ini dapat membantu Anda untuk membuat perencanaan kelahiran, mendorong untuk mau berdiskusi dengan penyedia layanan persalinan, dan membantu untuk menghindari cedera iatrogenik.

LILITAN TALI PUSAT

Lilitan tali pusat adalah ketika tali pusat adalah ketika tali pusat ‘melingkar’ di sekitar leher bayi. Kebanyakan Lilitan tali pusat adalah kumparan tunggal dan longgar. Kurang ketat dan jarang yang lilitannya ganda atau multiple (1,2,3).

Berbagai penelitian telah menunjukkan Lilitan tali pusat terjadi:

dalam 10% – 37% dari semua kelahiran;
lebih sering pada bayi laki-laki;
selama kehamilan atau persalinan;
lebih sering terjadi pada kehamilan yang lewat waktu (1,2,3,4).

Lilitan Tali Pusat JARANG MENYEBABKAN MASALAH

Lilitan Tali Pusat jarang ditemukan menjadi penyebab dari hasil yang kurang menguntungkan dalam studi kehamilan dan kelahiran. Beberapa penulis telah menyimpulkan Lilitan Tali Pusat “biasanya tidak membahayakan” (5,6,7).

Beberapa studi telah dikaitkan antara Lilitan Tali Pusat dengan variabel peningkatan deselerasi denyut jantung janin selama persalinan, dan Lilitan Tali Pusat ketat untuk proporsi yang lebih tinggi dari gawat janin dan Apgar skor yang rendah. (3,4,8) Namun, dalam studi retrospektif definisi Lilitan Tali Pusat ketat adalah ketika mereka ‘dijepit dan dipotong sebelum kelahiran bahu’ – karena morbiditas jangka pendek yang lebih banyak disebabkan oleh intervensi daripada akibat Lilitan Tali Pusat (3).

(Untuk mempelajari lebih lanjut tentang Lilitan Tali Pusat, bagaimana bayi bisa lahir dan dengan Lilitan Tali Pusat longgar / ketat / multiple, dan mengapa sebanarnya Lilitan Tali Pusat tidak “pas” jika di kaitkan dengan masalah yang kurang menguntungkan bisa di baca dan di pahami dari artikel luarnegeri ini: http://midwifethinking.com/2010/07/29/nuchal-cords/ dimana Lilitan Tali Pusat sering menjadi “kambing Hitam” dalam masalah seputar kelahiran dan persalinan

RITUAL DAN RUTINITAS

Banyak praktisi (bidan/dokter) dilatih untuk rutin ‘memeriksa’ untuk Lilitan Tali Pusat selama tahap kedua persalinan, dan jika ada, intervensi lebih lanjut dengan menarik untuk dan melonggarkan lilitan, atau melakukan penjepitan dan pemotongan.

Textbook rekomendasi bagi bidan/dokter untuk campur tangan dalam kasus Lilitan Tali Pusat (untuk kelahiran normal dan darurat) didasarkan pada literatur medis yang belum terevaluasi dan referensi bukti ilmiah yang kurang (1).

Ritual atau tatalaksasna yang dianjurkan dalam buku teks medis:

  • · Untuk melakukan pemeriksaan di vagina setelah kepala bayi lahir, untuk merasakan dan memeriksa kabel nuchal.(**dengan menyelipkan 2 jari ke sela leher kepala dan vagina)
  • · Untuk menarik dan melonggarkan tali pusat yang melilit leher dan melepaskan lilitannya dengan melewati kepala bayi sebelum ‘kelahiran’ dari bahu, jika Lilitan Tali Pusat nya longgar.

 

 

 

  • · Untuk mencoba untuk melonggarkan Lilitan Tali Pusat atau menjepit dan memotong tali pusat sebelum * ‘kelahiran’ dari bahu, jika Lilitan Tali Pusat nya ketat.

 

* Namun ternyata Beberapa buku menggambarkan dengan menggunakan manuver Somersault akan lebih baik hasilnya. (tentang manuver ini akan dibahas di akhir artikel, so STAY TUNE!)

Sementara literatur medis dari tahun 1840-an dan seterusnya berisi saran peringatan tentang “campur tangan” bidan dan dokter pada Lilitan Tali Pusat (1).

melakukan pemeriksaan, melonggarkan atau memotong Lilitan Tali Pusat adalah tidak perlu dan dapat memiliki konsekuensi serius bagi bayi. Anda sebagai klien dan praktisi harus menyadari intervensi ini biasanya dilakukan tanpa persetujuan dan bertentangan dengan model perawatan kebidanan (1,2,9).

PEMERIKSAAN VAGINAL UNTUK PERIKSA Lilitan Tali Pusat

Sebuah pemeriksaan vagina untuk memeriksa kabel nuchal terjadi pada tahap yang rentan bagi seorang wanita, ketika kepala bayi baru saja lahir. Dalam kebanyakan kasus, wanita tidak siap untuk hal ini dan tidak memberikan informed consent (10,11).

pemeriksaan vagina bisa menyakitkan bagi klien, tetapi lebih dari itu setelah melahirkan kepala mungkin telah menyebabkan rasa sakit dan trauma pada perineum.

Memeriksa Lilitan Tali Pusat juga dapat mengganggu proses kelahiran, menyebabkan stres yang tidak perlu, dan menggeser fokus wanita/ibu bersalin akibat intervensi yang dilakukan (1,2).

Tidak ada bukti ilmiah yang baik a untuk mendukung praktek rutin memeriksa Lilitan Tali Pusat, namun itu adalah intervensi medis secara umum atau yang dilakukan secara umum pada proses persalinan (9).

bahkan sejak menjadi Siswa-pun saya juga dilatih untuk memeriksa Lilitan Tali Pusat, segera begitu kepala bayi lahir dan bahkan sebelum kepala bayi melakukan putaran paksi luar.

lalu bagaimana seharusnya?

Saran:

1. Bicaralah dengan orang tua sebelum kelahiran tentang kemungkinan adanya lilitan tali pusat

2. Selama kelahiran TAK PERLU MELAKUKAN APA_APA / DO NOTHING

3. JIKA ada lilitan tali pusat dan in menyebabkan bahu dan badan bayi susah atau kesulitan turun dan lahir setelah kepala lahir (sangat jarang) menggunakan ‘teknik Koprol’ (Schorn & Blanco 1991) – lihat di artikel paling bawah.

4. Setelah tubuh bayi lahir seluruhnya, membuka lilitan (keluarga ibu / dapat melakukan hal ini).

5. Jika kondisi bayi kurang bagus (pucat) saat lahir, dorong orang tua untuk berbicara dengan bayi mereka sementara biarkan sirkulasi plasenta membantu mengembalikan volume darah normal dan oksigen untuk bayi (jangan memotong tali pusat bayi untuk resusitasi).

Menarik dan Melonggarkan Lilitan Tali Pusat

Menarik dan melonggarkan lalu melepaskan Lilitan Tali Pusat di leher bayi selama proses kelahiran adalah intervensi kelahiran umum (12). Sama seperti memeriksa Lilitan Tali Pusat, tidak didasarkan pada bukti dan ada semakin banyak bukti bahwa menarik Lilitan Tali Pusat tersebut dapat membahayakan (4).

Misalnya, bukti-bukti menunjukkan bahwa “penanganan” pada lilitan tali pusat entah itu menarik, melonggarkan maupun melepaskan, ternyata dapat merangsang arteri umbilikalis untuk melakukan vasoconstrict (mengurangi aliran darah) (13). Menarik lilitan tali pusat juga menciptakan ketegangan yang bisa menyebabkan resiko terjadinya robekan pada tali pusat dan “pendarahan neonatal berikutnya” (6).

Sebuah penelitian di Australia telah menemukan bahwa bidan dari Amerika Serikat, Australia, Irlandia, Selandia Baru dan Inggris merasa bahwa mereka melaksanakan intervensi yang telah diajarkan selama pelatihan mereka: untuk menjepit dan memotong tali pusat, jika ada lilitan” (2 , 9). Dan ini pun terjadi di sebagian besar bahkan hampir semua bidan dan dokter di Indonesia
dimana Dokter meminta ibu untuk berhenti mengejan lalu dokter atau bidan menarik tali pusat yang melilit untuk di longgarkan lalu melepaskan.

Menjepit dan memotong Lilitan Tali pusat yang KETAT

Tidak ada bukti yang cukup untuk mendukung pemotongan lilitan tali pusat yang ketat secara rutin (1,2,4,9,14). Jika tali pusat dijepit dan dipotong sebelum tubuh bayi secara keseluruhan di lahirkan.

Selama ini ternyata, sejaktahun 1898, buku teks pegangan pada keperawatan dan kebidanan hanya merekomendasikan para bidan dan dokter untuk melonggarkan dnegan hati-hati apabila ada lilitan tali pusat yang terlalu ketat mencekik leher bayi, bukan memotongnya. Begitujuga dengan buku dari Williams Obstetrics Edisi 1961, masih menganjurkan kepada bidan dan dokter untuk tetap bersabar hingga bahu lahir (15). Tapi dari tahun 1976 buku yang sama memperkenalkan ide-ide baru (tanpa bukti) bahwa jika lilitan tali pusat yang terlalu ketat di sekitar leher, itu harus “dipotong antara dua klem dan bayi harus di lahirkan segera” (15).

dan ternyata, Ketika proses persalinan normal yang tengah berlangsung “tiba-tiba dihentikan” lalu dengan terburu-buru di percepat atau persalinan di percepat(15, 16). Hal ini tidak selalu menjamin keselamatan Namun sebaliknya ada sejumlah kasus yang didokumentasikan dalam penelitian (Mercer et al) dan jurnal medis di mana memotong tali pusar sebelum kelahiran bahu mengakibatkan hasil iatrogenik termasuk cerebral palsy, palsy Erb, keterlambatan perkembangan global dan kematian (15).

Meskipun studi menunjukkan bayi mungkin tampak mentolerir pemotongan lilitan lati pusat yang longgar, ada bukti jelas bahwa pemotongan lilitan tali pusat ketat sebelum, atau segera dapat mengakibatkan cedera serius dan bahkan kematian (1,14,15). Beberapa penulis mengamati dan mendiskusikan hasil yang merugikan sebagai penyebab langsung dari pemotongan tali pusat yang ketat secara langsung: (mengancam jiwa hipovolemia, anemia, syok, hipoksia-iskemik ensefalopati, cerebral palsy, defisit kognitif dan kematian 8,13,14,15,17 , 18,19,20).

Menjepit dan memotong tali pusat sebelum bahu lahir

Risiko utama memotong tali pusat berhubungan dengan efek kompresi pada tali pusat saat kumparan ketat dan kemungkinan adanya distosia bahu (14). Penyempitan tali pusat dari lilitan tali pusat yang ketat dapat menghasilkan hilangnya volume darah pada bayi dan menyebabkan asam-basa (karena arteri terus mengirim darah dari bayi, tetapi menghambat aliran balik vena) (14). Dengan memotong tali pusarnya, otomatis menghambat fase oksigenasi pada bayi , Dalam kasus yang serius dari tahap akhir kompresi tali pusat / lilitan tali pusat yang ketat, bayi yang dilahirkan bisa menunjukkan tanda “pucat, pernapasan tidak teratur, skor Apgar rendah, terengah-engah, takikardia, denyut nadi perifer lemah, hipotensi, dan asidemia” (21). Dengan tali pusat yangl sudah putus, bayi-bayi ini tidak dapat menerima transfusi plasenta dan koreksi dari kondisi ini.beda dengan tali pusat yang masih dipertahankan utuh, ketika seluruh tubuh bayi lahir walaupun mungkin terjadi tanda pucat, pernafasan tidak teratur seperti yang saya tuliskan diatas, namun karena tali pusat belum putus, maka lilitan yang sudah di longgarkan ketika bayi sudah seluruhnya lahir membuat bayi masih mendapatkan aliran oksigen dan manfaat banyak dari tali pusat yang masih utuh tersebut.

Pada tahun 1991, “manuver Salto/Koprol” disebut tehnik Somersault pertama kali dijelaskan sebagai pilihan untuk ‘mengelola’ luilitan tali pusat yang ketat tanpa melakukan pemotongan (6). Meskipun bukan merupakan praktik yang berbasis bukti, manuver salto mempertahankan anatomi dan fisiologi proses persalinan normal dengan menjaga tali pusat tetap utuh – yang diperlukan untuk transfusi plasenta selama tahap ketiga dari transisi proses persalinan, kelahiran / neonatal dan sangat penting untuk bayi yang lahir yang berhubungan dengan volume darah (14).

Teknik Somersault dipromosikan untuk membantu kelahiran di mana kabel yang pendek dan / atau ketat.

Berikut ini gambaran tehnik jungkir/salto yang saya dapatkan dari www.medscape.com

 

 

 

 

 

 

Berikut ini tehnik manuvernya:

1.        Manuver Somersault adalah dengan cara memegang kepala bayi tertekuk dan memandunya ke atas atau ke samping ke arah tulang kemaluan atau paha, sehingga bayi melakukan “jungkir/salto,” berakhir dengan kaki bayi terhadap lutut ibu dan kepala masih di perineum.

2.       Setelah lilitan tal pusat ditemukan, bahu anterior dan posterior secara perlahan dilahirkan di bawah kontrol tanpa memanipulasi talipusatnya.

3.       setelah bahu dilahirkan, kepala tertekuk sehingga wajah bayi didorong menghadap ke arah paha ibu.

4.      Kepala bayi tetap dipertahankan di samping perineum sementara tubuh di lahirkan dan melakukan periode “jungkir balik” saat keluar.

5.       Tali pusar kemudian dibuka  dan dilanjutkan dengan manajemen yang biasa terjadi kemudian. Gambar disesuaikan dengan izin dari Mercer et al.

Manuver “Salto/Koprol” atau disebut tehnik Somersault tidak memerlukan peralatan, dapat dilakukan terlepas dari berapa kali tali pusat yang melingkar di leher, dapat digunakan dengan ibu dalam posisi persalinan apapun.

manuver Somersault mungkin mengakibatkan beberapa stres peregangan pada tali pusat, dan itu mungkin tidak berlaku untuk semua kasus.

Nah ini rekomendasi khusus untuk mengelola lilitan tali pusat , nah mengelola situasi inipun tergantung pada bagaimana ketatnya tali pusat tersebut melilit leher bayi. jika manuver ini tidak mampu mengurangi kondisi keketatan lilitan atau lilitan terlalu ketat, sehingga bahupun tidak dapat lahir, ya terpaksa Kita harus menjepit dan memotong tali pusat sebelum tubuh bayi lahir seutuhnya.

 

## catatan: beberapa kali dalam praktek membatu proses persalinan/kelahiran bayi dengan lilitan tali pusat, tanpa disadari saya sudah melakukan tehnik ini, bahkan seringkali secara otomatis saat bayi meluncur (terutama pada klien waterbirth) secara otomatis tubuh bayi melakukan tehnik/ manuver ini lho. Dan ini membuat saya semakin yakin bahwa BAYI ANDA TAHU APA YANG HARUS DIA LAKUKAN KETIKA DIA MENYADARI BAHWA ADA LILITAN TALI PUSAT DI LEHER DAN TUBUHNYA!

So…JUST TRUST YOUT BODY and TRUST YOUR BABY

 

Semoga Bermanfaat

Salam hangat

Yesie Aprillia

 

Referensi bacaan = Nuchal Cord Management and Nurse-Midwifery Practice (pdf)

Kisah persalinan yang berhubungan dengan lilitan tali pusat dan konsekwensinya bisa Anda baca pada artikel berbahasa inggris di bawah ini:

http://giftedbirthsupport.com/2011/06/01/birth-story-nuchal-cord/?blogsub=confirming#subscribe-blog

http://www.screenr.com/B7O (ini adalah penjelasan bidan Gloria lemay tentang lilitan tali pusat)

http://cord-clamping.com/2012/05/10/on-trialcutting-of-the-nuchal-cord/

http://cord-clamping.com/ dan http://www.bidankita.com/joomla-overview/monthly-guide/242-lilitan-tali-pusat-bagaimana-nich

Referensi:

(1) Jefford E., Fahy K., Sundin D. (2009) Routine vaginal examination to check for a nuchal cord Br J Midwifery, 17(4)

(2) Reed R. (2007) Nuchal Cords: Think Before You Check, The practising midwife, 10(5), 18, 20.

(3) Lt Col G Singh, Maj K Sidhu (2008)‘Nuchal Cord: A Retrospective Analysis’, MJAFI, Vol. 64, No. 3

(4) Reed, R. Barnes, M. and Allan, J. (2009), ‘Nuchal cords: sharing the evidence with parents’, British Journal of Midwifery, February 2009, Vol 17 (2): 106-109.

(5) Cunningham FG., Leveuo J., Bloom SL., Hauth JC., Gilstrapp III LC.,Wenstrom KD. (2005) Williams Obstetrics 22nd edn. McCraw-Hill Medical Publishing Division

(6) Schorn M., Blanco J. (1991) Management of the nuchal cord. J Nurse Midwifery ;36:131–2.

(7) Steinfield J., Ludmir J., Eife S., Robbins D., Samuels P. (1992) Prenatal detection and management of quadruple nuchal cord: A case report. Journal of Reproductive Medicine 37(12): 989–91

(8) Cashmore J. Usher RH. (1973) Hypovolemia resulting from a tight nuchal cord at birth. Pediatr. Res: 7:339.

(9) Jefford E., Fahy K., Sundin D. (2009) The Nuchal Cord at Birth: What Do Midwives Think and Do? Midwifery Today 89: 44–6

(10) Coldicott Y., Pope C., Roberts C. (2003) The ethics of intimate examinations -teaching tomorrow’s doctors. BMJ 326(7380): 97–101

(11) Lewin D., Fearon B., Hemmings V., Johnson G. (2005) Women’s experiences of vaginal examinations in labour. Midwifery 21: 267–77

(12) Jackson H., Melvin C., Downe S. (2007) Midwives and the fetal nuchal cord: asurvey of practices and perceptions. J Midwifery Womens Health 52(1): 49–55

(13) Coad J. & Dunstall D. (2001). Anatomy and Physiology for Midwives, Mosby.

(14) Mercer J., Skovgaard R., Peareara-Eaves J., Bowman, T. (2005) ‘Nuchal Cord Management and Nurse-Midwifery Practice’, Journal of Midwifery & Women’s Health 4 (23): 373-79

(15) Iffy L., Varadi V. and Papp E. (2001). ‘Untoward neonatal sequelae deriving from cutting of the umbilical cord before delivery’. Med Law, 20 (4): 627-624.

(16) Wickham S., (2008) Midwifery: Best Practice Vol 5. London, UK

(17) Dhar K., Ray S., Dhall G. (1995) Significance of nuchal cord. J Indian Med Assoc;93:451–3.

(18) Shepherd A., Richardson C., Brown J. (1985) Nuchal cord as a cause of neonatal anemia. Am J Dis Child;139:71–3.

(19) Iffy L., Varadi V. (1994) Cerebral palsy following cutting of the nuchal cord before delivery. Med Law;13:323–30.

(20) Flamm M D. (1999). ‘Tight nuchal cord and shoulder dystocia: a potentially catastrophic combination’. The American College of Obstetricians and Gynecologists, 94 (5): 853.

(21) Vanhaesebrouck P., Vanneste K., De Praeter C., Van Trappen Y., Thiery M. (1987) ‘Tight nuchal cord and neonatal hypovolaemic shock’, Archives of Disease in Childhood, , 62 1276-77

Additional articles

Jackson H., Melvin C., Downe S. (2007) ‘Midwives and the fetal nuchal cord: a survey of practices and perceptions’. Journal of Midwifery and Womens Health 52: 49-55

Janet D., Larson MD., William F., Rayburn MD., Crosby RSS., Gary R., Thurnan MD. (1995) Multiple cord entanglement and intrapartum complications. Am J Obstect Gynecol 173:1228-31.

Nelson K., Grether J. (1998) Potentially asphyxiating conditions and spastic cerebral palsy in infants of normal birth weight. Am J Obstet Gynecol 1998;179:507–13

Melvin C., Downe S. (2007) Management of the nuchal cord: a summary of the evidence, Br J Midwifery 15(10) 617-21

Walsh, D., Downe, S. (2010) Evidence for Neonatal Transition and the First Hour of Life, Essential Midwifery Practice: Intrapartum Care pp. 85-89.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s